Selamat Datang di Situs Resmi Pajokka Balocci
Selamat Datang di Situs Resmi Pajokka Balocci

Revitalisasi Mappano ri Salo, Upaya Menjaga Identitas Budaya dan Kearifan Ekologis Masyarakat Balocci

Balocci, 13 Juni 2026 – Alunan gendang tradisional, lantunan doa, serta iring-iringan masyarakat yang membawa Walasuji menuju sungai menjadi pemandangan yang menghidupkan kembali jejak sejarah dan kearifan lokal masyarakat Balocci. Suasana sakral tersebut mewarnai pelaksanaan Revitalisasi Budaya Mappano ri Salo Balocci yang berlangsung di Desa Wisata Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Penggerak Pariwisata Pajokka Balocci ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali salah satu warisan budaya masyarakat Balocci yang sarat akan nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Lebih dari sekadar ritual adat, Mappano ri Salo merupakan cerminan hubungan harmonis antara manusia dan alam yang telah diwariskan oleh leluhur selama beberapa generasi.

Kegiatan diawali dengan Sarasehan Budaya Mappano ri Salo yang menghadirkan berbagai tokoh dan pemangku kepentingan. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak Iswahyudi, Kepala Seksi Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep, Bapak Akmal, Tokoh Budaya Balocci sekaligus narasumber, Bapak Andi Djadjang A. Abbas, Dosen Antropologi Universitas Hasanuddin sekaligus narasumber akademisi, Bapak Andi Batara, Pembina Pajokka Balocci, Dr. Jaenal Sanusi, Lurah Balleangin, Ibu Muliati, Kanit Intel Polsek Balocci, serta tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda.

Dalam diskusi budaya tersebut, para narasumber mengupas sejarah, makna, serta relevansi Mappano ri Salo di tengah kehidupan masyarakat modern. Tradisi ini tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan nilai yang mengajarkan rasa syukur, gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

Tokoh Budaya Balocci, Andi Djadjang A. Abbas, menjelaskan bahwa Mappano ri Salo secara harfiah bermakna “menghanyutkan ke sungai”. Namun di balik prosesi tersebut tersimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan sumber kehidupan. Sungai tidak hanya dipandang sebagai sumber air, tetapi juga sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga dan dihormati bersama.

Sementara itu, akademisi dari Universitas Hasanuddin, Andi Batara, menekankan bahwa tradisi-tradisi lokal seperti Mappano ri Salo memiliki nilai penting dalam pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, masyarakat terdahulu telah mewariskan berbagai pengetahuan ekologis melalui tradisi yang hingga kini masih relevan dalam menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan sosial.

Memasuki sore hari, suasana semakin semarak dengan pelaksanaan kirab budaya Walasuji, sebuah prosesi adat yang membawa berbagai perlengkapan ritual menuju sungai. Walasuji yang terbuat dari anyaman bambu menjadi simbol kesucian, kebersamaan, dan harapan masyarakat. Prosesi kirab ini melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan serta mendapat perhatian antusias dari para tamu undangan.

Menambah semarak prosesi budaya tersebut, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangkep, Bapak Imam Takbir turut hadir dan berjalan bersama masyarakat dalam iring-iringan menuju lokasi ritual. Kehadiran pemerintah daerah menunjukkan dukungan nyata terhadap upaya pelestarian budaya sekaligus pengembangan wisata budaya berbasis masyarakat di Kabupaten Pangkep.

Puncak kegiatan berlangsung di tepian sungai melalui pelaksanaan ritual adat Mappano ri Salo yang dipimpin oleh Pinati, yang memandu seluruh tahapan prosesi sesuai tata cara yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Balocci. Dalam suasana penuh khidmat, doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta harapan akan keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi masyarakat.

Bagi masyarakat Balocci, ritual ini bukan sekadar seremoni. Mappano ri Salo mengandung pesan moral yang kuat tentang pentingnya menjaga hubungan yang selaras antara manusia, sesama, dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan di tengah berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Pembina Pajokka Balocci, Dr. Jaenal Sanusi, menyampaikan bahwa revitalisasi budaya bukan hanya tentang menghidupkan kembali sebuah tradisi, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi muda.

“Kita tidak hanya melestarikan ritualnya, tetapi juga melestarikan pengetahuan, filosofi, dan identitas yang terkandung di dalamnya. Budaya adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Balocci,” ujarnya.

Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan. Dukungan tersebut menjadi wujud komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya takbenda agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Melalui revitalisasi Mappano ri Salo, masyarakat Balocci tidak hanya merawat sebuah tradisi, tetapi juga memperkuat identitas budaya, memperkokoh nilai kebersamaan, serta meneguhkan pesan bahwa pelestarian budaya dan pelestarian alam merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di tengah arus modernisasi, Mappano ri Salo hadir sebagai pengingat bahwa kearifan lokal masih memiliki peran penting dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *