
MALILI, 4 NOVEMBER 2026 – Pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam dan daya tarik destinasi. Di balik destinasi wisata yang berkembang, terdapat kesadaran, partisipasi, kreativitas, serta kolaborasi masyarakat yang menjadi fondasi utama keberlanjutan pariwisata.
Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan Pelatihan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Luwu Timur pada 3–4 November 2026, bertempat di Aula Wisma Golden House, Malili, Kabupaten Luwu Timur.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Bapak Aswan Aziz, S.Pi., M.Si., selaku Staf Ahli Hukum dan Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Luwu Timur. Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman dan perspektif dalam pengembangan kepariwisataan, di antaranya Bapak Ibrahim dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan serta Andi Malikus Shalih, Founder Penggerak Pariwisata Pajokka Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Dalam kesempatan tersebut, Penggerak Pariwisata Pajokka Balocci mendapat kepercayaan untuk berbagi pengalaman dan praktik baik mengenai pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (Community-Based Tourism). Materi yang dibawakan oleh Andi Malikus Shalih mengangkat berbagai pembelajaran dari perjalanan Pajokka Balocci dalam membangun ekosistem pariwisata di kawasan Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.

Salah satu hal mendasar yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pemahaman bahwa Kelompok Sadar Wisata bukan sekadar organisasi yang dibentuk untuk mendukung kegiatan pariwisata. Lebih dari itu, Pokdarwis merupakan wadah partisipasi masyarakat untuk membangun kesadaran, kepedulian, tanggung jawab, dan keterlibatan aktif dalam menciptakan lingkungan serta destinasi wisata yang berkualitas.
Peserta diajak memahami konsep Sapta Pesona yang mencakup tujuh unsur penting dalam menciptakan suasana destinasi wisata yang ideal, yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.
Ketujuh unsur tersebut bukan hanya slogan kepariwisataan, melainkan nilai yang perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, memberikan pelayanan yang ramah, menciptakan rasa aman bagi pengunjung, hingga menghadirkan pengalaman wisata yang berkesan.
Selain itu, penguatan kelembagaan, pembagian peran dan tanggung jawab, pengembangan produk wisata, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kemampuan membangun kemitraan menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan oleh setiap Pokdarwis.
Melalui pengalaman Pajokka Balocci, peserta mendapatkan gambaran bahwa membangun destinasi wisata tidak harus dimulai dengan fasilitas yang besar atau investasi yang mahal. Langkah awal justru dapat dimulai dengan mengenali potensi yang dimiliki, membangun kepercayaan masyarakat, mengorganisasi sumber daya lokal, dan menciptakan kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, budaya, serta lingkungan.
Perjalanan Pajokka Balocci dalam mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat di Balleangin menjadi salah satu contoh bagaimana potensi alam, budaya, kreativitas pemuda, dan kekuatan komunitas dapat disinergikan menjadi sebuah ekosistem pariwisata. Berbagai inisiatif seperti pengembangan wisata alam, pemandu lokal, fotografi wisata, homestay, kegiatan edukasi lingkungan, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan UMKM menjadi bagian dari upaya membangun pariwisata yang memberikan ruang dan manfaat bagi masyarakat setempat.
Pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata tidak semata-mata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat terlibat, seberapa luas manfaat ekonomi yang dirasakan, serta sejauh mana kelestarian alam dan budaya tetap terjaga.
Aspek edukasi lainnya yang menjadi perhatian adalah pentingnya memahami kebutuhan dan karakteristik pasar wisatawan. Sebuah destinasi mungkin memiliki panorama alam yang indah, tetapi tanpa pengelolaan produk, pelayanan, promosi, dan strategi pemasaran yang tepat, potensi tersebut belum tentu mampu berkembang secara optimal.
Pokdarwis perlu belajar mengidentifikasi siapa calon wisatawannya, apa yang mereka cari, pengalaman seperti apa yang ingin mereka dapatkan, berapa kemampuan belanjanya, serta bagaimana cara menjangkau mereka.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penjaga destinasi, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menciptakan produk dan pengalaman wisata yang memiliki nilai jual. Pendekatan ini mendorong Pokdarwis untuk mulai berpikir secara lebih terarah, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan tren pariwisata, termasuk pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi dan pemasaran destinasi.
Pengembangan pariwisata tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, Pokdarwis, komunitas, pelaku usaha, generasi muda, akademisi, serta berbagai mitra pembangunan.
Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan kebijakan dan fasilitasi, Pokdarwis menjadi penggerak di tingkat masyarakat, pelaku usaha mengembangkan layanan dan produk wisata, sedangkan komunitas serta generasi muda dapat menghadirkan inovasi dan kreativitas.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki keberanian untuk melakukan perubahan di wilayah masing-masing. Sebab, destinasi wisata yang hebat tidak selalu lahir dari tempat yang memiliki fasilitas paling lengkap, melainkan dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan komitmen untuk tumbuh bersama.
Bagi Penggerak Pariwisata Pajokka Balocci, kesempatan berbagi di Kabupaten Luwu Timur merupakan bagian dari semangat memperluas ruang belajar, berbagi pengalaman, dan membangun kolaborasi antardaerah.
Kami percaya bahwa setiap daerah memiliki potensi dan keunikan tersendiri. Tidak ada satu model pengembangan pariwisata yang harus diterapkan secara seragam. Setiap komunitas perlu menemukan pendekatan yang sesuai dengan karakter alam, budaya, kebutuhan, dan kemampuan masyarakatnya.

Karena pada akhirnya, pariwisata bukan hanya tentang membawa orang datang berkunjung, tetapi bagaimana kehadiran wisatawan mampu membawa manfaat, membuka peluang, menjaga warisan alam dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dari Balleangin, Balocci, Kabupaten Pangkep, kami terus belajar dan berbagi. Sebab, inspirasi tidak harus datang dari tempat yang besar, tetapi dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil masyarakat yang bergerak bersama.
Penggerak Pariwisata Pajokka Balocci
Dari Kaki Gunung, Kami Menginspirasi Negeri.